Pro Kontra Kloning

 Oleh: Chairul Chamim (04)

Ilmu bagaikan air laut, semakin banyak air yang kita minum maka semakin haus terasa. Tidak bisa dipungkiri bahwa ilmu pengetahuan adalah suatu ha. Sebagai mahluk Tuhan yang penuh dengan rasa ingin tahu, manusia akan selalu berusaha menemukan inovasi sejalan dengan bergulirnya waktu. Manusia akan terus menggali pengetahuan yang masih terpendam di alam. Bahkan, ilmu pengetahuan yang telah lama ditemukan dan dirumuskan dalam sebuah teori bisa saja dibantah oleh penelitian yang baru saja dilakukan.
            Ilmu pengetahuan bisa diibaratkan alat ajaib yang dapat mengubah hal yang mustahil menjadi mungkin. Jika melihat kembali puluhan tahun yang lalu, manusia tidak pernah membayangkan mendarat di bulan. Namun, sekarang bulan dijadikan lokasi wisata baru bagi kaum elit untuk menghabiskan waktu liburan mereka. Begitu juga di bidang kedokteran, ilmuwan abad terdahulu beranggapan bahwa individu baru tidak akan terbentuk jika tidak terjadi proses fertilisasi karena fertilisasi adalah syarat utama terbentuknya individu baru. Namun, teknologi yang terbaru membantah teori lama tersebut. Dengan teknologi terbaru, ilmuwan dapat mendapatkan individu baru tanpa melakukan proses fertilisasi. Apa nama dari teknologi itu? Kloning, ya kloninglah nama dari teknologi tersebut. Kloninglah yang mampu menghasilkan individu baru tanpa melakukan proses fertilisasi.
           
Kloning adalah sebuah inovasi dari ilmu pengetahuan yang mengejutkan banyak pihak akhir-akhir ini. Jika sebelumnya telah diciptakan teknologi bayi tabung, maka kloning sedikit berbeda dengan teknologi bayi tabung. Walaupun keduanya dapat menciptakan baru dengan cara buatan, namun kloning tidak membutuhkan proses fertilisasi serta hasil yang didapat akan sama persis atau identik dengan induknya.
            Dalam proses pembuatan bayi tabung, ilmuwan akan mengambil sel telur dari induk betina dan sel sperma dari induk jantan untuk dilakukan proses fertilisasi secara in vitro (berlangsung di dalam tabung reaksi). Namun, pada teknologi kloning kita tidak memerlukan sel sperma dari indiuk jantan. Kita hanya membutuhkan sel telur dari induk betina dan sel kelenjar mammae dari induk betina lain. Kemudian sel telur dan sel mammae tersebut akan di jadikan fusi sel atau digabungkan. Akhirnya sel yang telah bergabung itu akan ditanam pada rahim induk ketiga lalu membelah dan terus membelah hingga menjadi sebuah individu.
            Teknologi kloning ditemukan oleh ilmuwan eropa pada tahun 1995. Domba dolly adalah bukti awal kesuksesan dari teknologi kloning dalam dunia ilmu pengetahuan. Kloning domba tersebut menjadi sebuah gebrakkan di dunia rekayasa. Sejak penemuan domba dolly,ilmuan mulai mencoba untuk merekayasa berbagai jenis hewan seperti kuda,sapi,dan jenis lain. Sejak itu pun berbagai hewan hasil kloning beredar di pasaran.
            Bagaikan laut yang tidak pernah surut, manusia tidak pernah puas akan suatu hal. Setelah berhasil mengkloning domba,kuda, dan sapi. Ilmuwan menjadikan manusia sebagai objek percobaan berikutnya. “Wah, pasti luar biasa”, itulah yang ada di pikiran kita pertama kali. Kita dapat memiliki saudara kembar dengan kita. Tetapi, apakah kita pernah memikirkan dampak jangka panjang dari penerapan teknologi ini? Memang, kloning berfungsi seperti teknologi bayi tabung yang dapat menolong orang yang mandul. Pasangan yang mandul dapat memiliki anak yang mereka inginkan melalui teknologi kloning. Namun dalam penerapan teknologi kloning kepada manusia kita tidak dapat langsung menerapkan begitu saja. Ada berbagai aspek yang harus kita perhatikan, khususnya dalam hal etika. Perlu kita ingat bahwa manusia adalah mahluk yang diciptakan Tuhan paling sempurna. Manusia punya akal dan pikiran yang membedakan manusia dan mahluk lainnya. Pantaskah manusia disamakan dengan binatang yang tidak memliki akal dan pikiran?
Jika kita menerapkan kloning pada manusia, maka kita akan menjumpai puluhan bahkan ratusan bayi kembar yang nantinya nampak seperti robot yang memiliki bagian tubuh yang identik. Hal ini akan membahayakan umat manusia di masa yang akan datang. Bayangkan ketika banyak orang yang memiliki tubuh identik melakukan kejahatan, maka kita akan bingung menentukan siapakah yang melakukan kejahatan tersebut. Bukan hanya orang biasa, orang penting seperti presiden juga dapat dijadikan obyek kloning. Kita dapat melakukan kloning kepada presiden hanya dengan menggunakan sel folikel rambut presiden. Tidak menutup kemungkinan presiden yang asli akan ditukar dengan presiden “aspal” hanya demi kepentingan lawan politik. Lalu presiden yang palsu yang akan memimpin negara ini.
Selain hal tersebut ada dampak negatif lain dari teknologi kloning. Kita akan kesulitan untuk menetukan siapakah induk sebenarnya dari individu kloning. Semisal kita akan melakukan kloning pada Luna Maya, maka kita mengambil sel kelenjar susu dari Luna Maya. Sel dari Luna Maya tersebut akan digabungkan dengan sel ovum dari Ayu Tingting. Setelah itu, sel yang telah menyatu ditanam pada rahim Sandra Dewi. Akhirnya lahirlah Nikita Mirzani. Bagaimanakah kita menentukan induk dari Nikita Mirzani, padahal semua memiliki peran dalam melahirkan Nikita Mirzani. Mungkin hal itu belum seberapa, jika kita mengamati lebih jauh lagi sudah berapa banyak calon embrio kloning yang mati dalam eksperimen. Hal tersebut telah melanggar kodrat manusia sebagai mahluk suci ciptaan Tuhan. Bayangkan saja ketika embrio yang notabenya adalah calon individu baru dijadikan bahan uji coba. Ketika eksperimen itu gagal, maka embrio itu dibuang begitu saja. Hal itu sungguh tidak menghargai peri kemanusiaan.
Segi psikologi pun juga membuktikan dampak negatif dari kloning. Perlu kita ingat, masa kandungan juga ikut serta membentuk karakter calon janin. Jika kita hanya menumbuhkan embrio kloning dengan cara laboratrium maka bayi yang akan lahir belum lah sempurna seutuhnya. Memang benar bahwa kondisi laboratorium dapat mendukung pertumbuhan janin. Tetapi kasih sayang yang dibutuhkan untuk membentuk karakter dari bayi tidak diberikan. Akhirnya pun bayi yang terbentuk bagaikan robot yang tidak punya hati.
Ada satu hal lagi yang memperparah polemik kloning ini. Ternyata negera barat,khususnya Amerika, mendukung penuh segala penelitian tentang teknologi kloning ini. Mereka beranggapan bahwa manusia memiliki kebebasan penuh untuk berkarya dalam bidang teknologi dan tidak peduli akan segala aspek yang ada. Hal ini terbukti dengan besarnya dana yang dikeluarkan oleh pemerintah Amerika demi penelitian ini.
Bagaimanapun pintarnya tupai memanjat, maka akan jatuh juga. Manusia boleh saja puas atas apa yang berhasil mereka raih. Namun, manusia harus sadar bahwa manusia hanyalah mahluk Tuhan yang memiliki keterbatasan. Selayaknya teknologi dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia, bukan malah menjadikan manusia itu sendiri sebagai obyek percobaan. Maka dari itu, bagaimanapun hebatnya teknologi kloning kita harus memerhatikan etika dan aturan yang berlaku. Jangan sampai kita menjadi orang yang hebat tetapi tidak punya etika./Chacha


EmoticonEmoticon