Hukum mengucapkan Selamat Natal





Assalamua’laykum Warrahamatullahhi Wabarakaatuh

Bismillahirrahmanirrahim….

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah selalu memberi bimibingan dan hidayah kepada kita semua.

            Pertama, saya ucapkan terima kasih buat temen-temen semua karena telah menyempatkan waktu kalian untuk mengunjungi blog sederhana ini. Baik, mungkin perlu temen-temen ketahui kenapa saya menulis posting ini di blog saya. Sejak sebelum tanggal 25 hingga sekarang sudah beberapa kali saya melihat status FB, Tweet di Twitter, dan postingan web/blog yang membahas tentang larangan umat muslim untuk mengucapkan “Selamat Natal” kepada umat nasrani. Ironisnya, semua itu tidak diambil pelajaran, namun malah berujung pada debat kusir, saling ejek, dan perpecahan. Apa penyebabnya? Yang menyebabkan semua itu tidak lain dan tidak bukan adalah ego individu kita masing-masing yang tidak mau menerima nasihat dari orang lain yang notabenya lebih pintar dari kita dalam hal agama. Kita lebih mementingkan logika dan rasionalitas “Manusia” dalam berpendapat. Memang kita boleh menggunakan logika kita dalam hal ijtihad. Namun, logika tersebut haruslah tetap berpatokan kepada Al Quran dan Hadist. Tidak boleh kita berpendapat hanya mengandalkan “ Menurut saya”. Semua harus ada dalilnya J

            Baik, sekarang saya akan mulai membahas perkara yang rentan akan perpecahan ini. Temen-temen, sebenarnya sudah jelas sekali hukum tentang mengucapkan “Selamat Natal “ kepada umat nasrani. Berdasarkan Hadist berikut :

 Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167).  



Maka jelaslah hukum mengucapkan “ Selamat Natal” haram bagi umat muslim. Namun, kenapa banyak orang yang masih mengabaikan hadist tersebut dan ayat-ayat Al Quran yang lain. Lantas bagaimana penjelasan yang tepat?

Baik, temen-temen saya di sini tidak akan banyak menggunakan Hadist dan Ayat Al Quran dalam menjelaskan perkara ini. saya akan menggunakan logika dan analogi sederhana untuk perkara ini. Mungkin cara ini lebih dapat diterima dari pada menggunakan dalil-dalil Al Quran dan Hadist yang memerlukan ilmu khusus untuk benar-benar dapat memahami kandungan dari ayat-ayat tersebut.
“Selamat Natal”. Sebuah kalimat sederhana yang sering diucapkan, namun mengandung arti yang mendalam dan fatal akibatnya. Kerusakan akidah kita, itu akibat fatalnya. Mungkin kebanyakan orang protes kenapa sih kok gak boleh mengucapkan selamat natal? Kita harus saling toleransi kan? Bukankah dengan melarang mengucapkan Natal merupakan tindakan rasisme?

Temen-temen sekalian, mungkin kita berpikir kalau Selamat Natal merupakan sekedar ucapan toleransi, namun apabila sudah memasuki perkara agama dan akidah maka hal ini dapat berubah makna. Saya lihat di beberapa grup dan fans page memberikan penjelasan tentang haramnya mengucapkan dengan cara membandingkan ucapan Selamat Natal dengan Mengucapkan dua kalimat syahadat. Kemudian banyak yang protes, menganggap bahwa perbandingan tersebut tidak setara. Seharusnya pengucapan Selamat Natal dibandingkan dengan Selamat Lebaran, bukan dengan mengucapkan dua kalimat Syahadat. Namun, menurut saya perbandingan antara mengucap selamat Natal dan mengucap dua kalimat syahadat adalah sebanding. Kenapa?

Pertanyaan penting ingin saya lontarkan kepada temen-temen sekalian. Apakah teman-teman mengetahui arti asli dari kata “Selamat” dan “Natal”?

Saya mengambil pengertian kata “selamat” dari kamus besar bahasa Indonesia. Selamat berarti : doa (ucapan, pernyataan, dsb) yg mengandung harapan supaya sejahtera (beruntung, tidak kurang suatu apa, dsb.
Sedangkan kata “Natal” berarti : Natal (dari bahasa Portugis yang berarti "kelahiran") adalah hari raya umat Kristen yang diperingati setiap tahun oleh umat Kristiani pada tanggal 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus.( http://id.wikipedia.org/wiki/Natal).
Kemudian ada pertanyaan lain, siapakah sebenarnya Yesus menurut umat kristiani? 

            Yesus di dalam Kekristenan juga dikenal dengan sebutan Kristus. Orang Kristen percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah, Tuhan, Mesias, dan Juru Selamat umat manusia. Sedangkan Agama Yahudi menolak anggapan bahwa Yesus adalah seorang Mesias yang telah dinubuatkan dalam kitab suci mereka.

Nah… Sudah sedikit nyambung belum? Dengan melihat arti tiap kata tersebut kita dapat mengartikan secara utuh ucapan “Selamat Natal”. Selamat Natal adalah ucapan yang mengungkapkan suka cita kita atas hari ketika Yesus, yang menurut umat kristiani adalah anak Allah, dilahirkan di dunia sebagai juru selamat bagi umat kristiani.

Menurut teman-teman benar apa tidak pendapat umat kristiani bahwa Yesus adalah anak Allah? Secara tegas saya jawab TIDAK! Itu merupakan kebohongan terbesar yang dilakukan kepada Allah. Temen-temen pasti sudah mengetahui bahwa Allah itu tidak beranak dan diperanakkan. Pasti sudah hafal dengan ayat satu ini kan?

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ 
“Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan” QS : Al Ikhlas :3

Maka dengan begitu apa yang sejak dulu diyakini oleh umat kristiani adalah salah. Lantas apa hubungannya dengan mengucap selamat Natal? Apabila kita mengucap selamat natal, maka hal itu berarti kita turut senang dan membenarkan apa yang umat kristiani lakukan, yaitu merayakan kelahiran Yesus yang dianggap sebagai anak Tuhan.

Teman-teman pasti menyangkal “Tapi kan kita niatnya cuma toleransi, tidak ikut membenarkan apa yang diyakini oleh umat kristiani?”

            Teman-teman sekalian terkadang kita terlalu menggampangkan sebuah hal, namun malah fatal akibatnya. Kita ambil contoh gini aja, missal “B” memiliki sahabat karib yang bernama “A”. Si A adalah teman “B” sejak kecil hingga kini ia dewasa. Namun, dibalik persahabatan mereka. Kedua Ayah mereka tidak memiliki hubungan yang akur. Mereka selalu bersaing dalam hal bisnis. Suatu ketika, dalam sebuah acara tender proyek. Ayah dari “A” bersaing dengan ayah dari “B”, ayah dari “A” akhirnya memenangkan tender tersebut. Namun, kemenangan ayah dari “A” bukanlah murni sebuah kemenangan. Ayah “A” melakukan segala hal untuk menjatuhkan reputasi ayah dari “B” dengan menyebar fitnah kemana saja tentang ayah dari “B”. kecurangan ini diketahui oleh B dan ayahnya. Namun si A, tidak mengetahuinya. Beberapa hari kemudian setelah kemenangan tender ayah dari A, keluarga A melakukan pesta syukuran. Karena A tidak mengetahui kecurangan ayahnya terhadap B, maka ia sebagai sahabat karib B mengundang B untuk hadir dalam perayaan tersebut. Sebagai orang NORMAL dan orang yang MENCINTAI ayahnya, maka B jangankan menghadiri pesta, mengucap selamat pun tidak bakalan mau. Karena sesungguhnya ayah A lah yang menebar fitnah kepada ayah B.

            Teman-teman ilustrasi tersebut merupakan analogi sederhana tentang apa alasan di balik haramnya pengucapan selamat natal. Apakah kita turut senang atas perayaan orang lain akan sebuah fitnah dan kebohongan yang mereka lontarkan kepada Allah. Fitnah yang menyatakan Allah memiliki anak. Sama halnya dengan umat lain yang mengucap dua kaliamt syahadat. Dengan mengucap syahadat, mereka yakin bahwa Tiada Tuhan Selain Allah , dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
            “Tapi kan kita Cuma toleransi sesama warga Indonesia. Kita mengucapkan Selamat Natal bukan berarti kita percaya ajaran mereka!”

            Teman-teman sekalian, apakah hanya alasan TOLERANSI yang menyebabkan kalian berupaya untuk tetap melanggar aturan agama kita. Toleransi yang dimaksud di Islam adalah toleransi yang berhubungan dengan social, bukan akidah. Misal : apabila kita memiliki tetangga nonmuslim dan ketika kita memasak bau masakan kita tercium oleh tetangga kita tersebut. Maka kita harus memberi makanan kepada tetangga kita tersebut. Atau ketika tetangga kita ada yang sakit keras, dan tidak ada yang menolong. Maka sebagai tetangga kita wajib menolongnya. Selain itu ada, bentuk toleransi yang lain adalah dengan tidak mengganggu mereka merayakan Natal di lingkungan sekitar kita walaupun saat acara pesta tersebut suara nyayian terdengar keras dan mengganggu kita.

            Teman-teman itulah bentuk toleransi dalam islam yang sebenarnya. Sekarang saya ingin bertanya, apakah ketika suatu saat tetangga kita yang non muslim memberi kita makan dengan lauk tempe dan ikan asin, apakah kita wajib membalasnya memberi makan dengan lauk yang sama persis? Apakah kita tidak boleh memberi mereka lauk ayam atau daging sapi? Pasti lebih baik membalas dengan hal yang lebih baik dari pada yang mereka beri kepada kita kan?

Nah… Sama halnya dengan mengucap Selamat Natal. Apabila umat agama lain mengucapkan selamat lebaran kepada kita, seharusnya kita nggak membalasnya dengan ucapan selamat natal. Balas donk dengan hal yang lebih baik. Misal : saaat lebaran kita berbagi opor ayam, kue lebaran atau baju baru kepada mereka. Masak Cuma membalas dengan ucapan selamat natal J.

            Baik temen-temen, itulah sedikit penjelasan singkat dan analogi sederhana dibalik diharamkannya mengucapkan selamat natal. Saya tidak bermaksud menggurui teman-teman. Kita semua bertabayun disini. Jangan karena masalah ucapan “Selamat” umat islam saling mengejek. Sekarang apabila teman-teman semua punya pendapat lain yang bertentangan dengan saya, atau punya argument lain yang mendukung pendapat saya ini, silahkan tulis komentar kalian di bawah posting ini. Tentunya dengan bahasa yang baik,benar, dan sopan ya J Wallahua’lam Bishawab.

Wassalamualaykum…J


EmoticonEmoticon