Defisit Perdagangan Terparah sepanjang Sejarah Indonesia!



       Krisis yang melanda Amerika tidak hanya dirasakan oleh negera paman Sam saja, tetapi juga dirasakan oleh seluruh perekonomian di dunia. Dolar yang menjadi mata uang internasional sangat berpengaruh dalam kegiatan ekspor dan impor sebuah negara. Begitu juga bagi Indonesia. Pada akhir tahun 2013 laporan neraca perdagangan menunjukkan angka merah, yang berarti defisit terjadi di neraca perdagangan Indonesia. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik yang dikutip dari bisnis.news.viva.co.id mengatakan bahwa Indonesia pada akhir bulan Juli mengalami defisit neraca perdagangan sebesar USD 2,3 Miliar atau sama dengan 25.652 triliun rupiah. Defisit neraca perdagangan ini disebut-sebut sebagai defisit neraca perdagangan yang paling parah di seluruh sejarah perekonomian Indonesia. Gita Wiryawan, Menteri Perdagangan yang saat ini menjabat, mengaku bahwa neraca perdagangan mengalami defisit dikarenakan sektor migas yang mengalami defisit dalam jumlah besar. Dia mengakatan bahwa sepanjang bulan Januari-Juli neraca perdagangan defisit sebesar USD 5,65 miliar. Jumlah itu berasal dari defisit migas sebesar 7,63 miliar. Sedangakan sector nonmigas mengalami surplus USD 1,98 miliar. Perihal defisitnya sector migas yang begitu besar, bahkan mengalahkan surplusya sector nonmigas, terutama disebabkan oleh tingginya permintaan agregat migas yang menjadi kebutuhan pokok rakyat Indonesia. Menurut Menteri ESDM, Jero Wacik, defisit yang terjadi sesungguhnya bukanlah keseluruhan sector migas melainkan hanya pada minyak bumi. Lantas kenapa defisit yang terjadi pada sector migas begitu besar? Tidak lain tidak bukan adalah karena permintaan agregat yang melonjak dikarenakan pengaruh musiman dan kegiatan invesatasi di bidang manufaktur yang semakin meningkat. Pengaruh musiman yang dimaksud adalah datangnya hari raya lebaran. Setiap tahun saat lebaran tiba selalu terjadi peningkatan kebutuhan BBM. Namun, peningkatan dari tahun ke tahun tidak pernah sebesar bulan Juli tahun 2013. Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, mengatakan defisit perdagangan migas meningkat pada Juli karena tingginya volume impor untuk menambah persediaan bahan bakar menjelang Idul Fitri. Menurut catatan BPS, pada Juli lalu, setidaknya impor minyak dan gas naik 24 persen dibandingkan Juni. Selain itu kebutuhan industri manufaktur akan bahan bakar minyak meningkat disebabkan oleh investasi yang terus meningkat yang dilakukan oleh industry manufaktur.
            Peningkatan impor minyak tidak hanya berpengaruh pada defisitnya neraca perdagangan tetapi pada nilai tukar rupiah juga. Nilai tukar rupiah yang sebelumnya sebesar Rp9.600 per dolar, pada bulan September rupiah melemah ke level Rp11.000 per dolar.
"Kita tahu permasalahan akibat rupiah melemah ini adalah karena impor minyak, kita sudah tahu kok dasar persoalannya, ya karena impor minyak, jangan disebut impor migas, karena kita gak kita tidak impor kita justru ekspor," tutur Jero Wacik dikutip dari finance.detik.com.
Dengan tingginya nilai impor minyak menyebabkan permintaan akan dollar terus meningkat, sehingga mau tidak mau terus menekan nilai rupiah. Diperparah lagi dengan adanya kebijakan tapering oleh bank sentral AS. Secara teori apabila nilai rupiah melemah, tingkat ekspor akan meningkat. Hal ini terjadi pada sector nonmigas Namun, lain halnya dengan kasus ini. Di sector migas kita tidak mampu mengekspor ke luar, sehingga dengan melemahnya nilai rupiah ekspor netto kita akan terus mengalami defisit neraca perdagangan.
            Dampak dari kejadian ini adalah membengkaknya anggaran subsidi bagi BBM. Kementrian Keuangan melaporkan bahwa tahun 2013 subsidi BBM bakal meningkat sebesar 12% atau Rp24 Triliun. Padahal anggaran  APBN-P 2013 telah mengalokasikan dana sebesar Rp200 Triliun. Maka dari itu, pemerintah menghapuskan sebagian subsidi untuk BBM. Dengan dihapuskannya  subsidi BBM, menyebabkan inlfasi semakin meningkat dan fluktuasi ekonomi pun terjadi. BBM sebagai barang modal dalam produksi barang dan jasa, kenaikan harga BBM  yang terjadi menyebabkan kenaikan beban produksi. Mau tidak mau produsen harus mengurangi tingkat output produksinya. Pengurangan tingkat output produksi secara keseluruhan semakin membuat tingkat inflasi melonjak.


EmoticonEmoticon