Sistem RIba' Si Pengacau Perekonomian

                        Sistem perekonomian Makro, yah... Sebuah sistem yang baru aku kenal. Mungkin baru beberapa bulan yang lalu aku mengenal dan belajar sistem perekonomian ini. Aku mengenalnya saat aku kuliah perdana di semester I. Yaps, wajar aku baru mengetahui perkara ini soalnya saat SMA aku adalah siswa IPA yang tidak mengenal sama sekali apa itu sistem perekonomian. Aku emang seorang yang agak apatis dengan ekonomi, now why? yah seperti kalian tahu  sendiri lah bagaimana perekonomian di negara ini kan?Ruwet kan? Maka dari  aku gak mau mikir yang ruwet-ruwet. Namun, saat lulus SMA, nggak tahu kenapa aku malah memilih jurusan IPS. Al hasil, aku harus belajar pelan-pelan untuk mencintai jurusan yang aku baru kenal ini...:D
Mungkin, kalian yang beragama islam akan sangat mudah mengetahui kebesaran-kebesaran ALLAH SWT yang nampak di dunia ini. Ayat-ayat kauniah tersebut sangat banyak ditemukan di teori-teori ilmu pengetahuan . Misal surat Al Mu'minun ayat 12-14 yang menjelaskan proses kejadian penciptaan manusia. Hal itu sangat cocok dengan teori yang ada di ilmu Biologi. Hal tersebutlah yang membuatku cinta dengan ilmu pengetahuan alam. Karena dengan belajar ilmu tersebut, kita bisa secara langsung belajar tentang kekuasaan Allah SWT. Mari kita lihat definisi "Orang yang berakal" menurut Surat Ali Imran Ayat 190-191.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan ihwal penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan Kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”


Namun, sebaliknya ketika aku belajar pelajaran IPS untuk pertama kali aku belum menemukan ayat-ayat kauniah yang ada di ilmu IPS. Yang ada hanyalah hubungan muamalah antar manusia. Mungkin aku terlalu dini untuk menyatakan hal itu karena aku baru anak kemarin sore di ilmu ekonomi. Sebenarnya banyak ayat Allah yang harus dipatuhi di ilmu Ekonomi. Salah satu contoh ayatNYA adalah ayat tentang hukum jual beli

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 275)

Namun, aku membaca ayat tersebut dan sekadar meyakini tanpa mempertanyakan banyak alasan karena meyakini ayat Allah adalah kewajiban umat muslim.
Aku pun awalnya tidak tertarik untuk mempelajari ayat itu lebih dalam, karena ilmu yang kudapat masih sangat minim di awal semester. Setelah sedikit lebih dalam belajar ekonomi aku pun sadar akan makna krusial ayat tersebut. Bagaimana Allah menjelaskan secara nyata dan memeringatkan hambaNYA untuk tidak mendekati riba'.

Sekarang aku akan menjelaskan menurut pendapatku (yang mungkin masih dasar) bagaimana riba' dapat mengacaukan sistem perekonomian. Aku berbicara riba' disini hanya sebatas sistem "bunga" karena menurutku itulah yang berdampak paling besar dalam sistem perekonomian. Jika kita berbucara tentang sistem bunga, maka larinya pasti pada bank. Yaps, benar .... Karena bunga merupakan hal penting di pasar dana pinjaman. "Kalo gak ada bunganya ngapain kita nabung?" Mungkin itu pendapat sebagian besar orang.

Jika kita bandingkan antara pasar dana pijaman dan pasar barang dan jasa. Maka kita akan menemukan hal yang sama yaitu "bunga" dan " harga ". Kita tahu bahwa dalam pasar barang dan jasa yang menentukan tingkat penawaran dan permintaan adalah "tingkat harga"barang dan jasa itu sendiri. Sedangkan dalam pasar dana pinjaman, yang menentukan tingkat penawaran dan permintaan adalah tingkat suku bunga. Karena suku bunga lah yang memengaruhi orang untuk menabung atau meminjam uang.Kita tahu bahwa semakin tinggi suku bunga, maka orang yang menabung akan semakin banyak(penawaran uang akan semakin tinggi). Orang-orang semakin giat untuk menyetorkan uangnya ke bank daripada menyimpan sendiri uang di dompet. Namun, sebaliknya para pemilik usaha akan semakin enggan untuk meminjam uang guna melebarkan sayap usahanya. Apa akibatnya? Dengan tingkat suku bunga yang tinggi perekonomian akan berjalan lambat. Investasi akan menurun.



EmoticonEmoticon