Kondisi LGBT di Indonesia

Mungkin tulisan ini berawal dari sebuah petisi online tentang LGBT yg beberapa hari yg lalu menyebar di grup WA maupun LINE. Karena ikut-ikutaan, aku pun mengisi petisi tersebut.
Yah,,, karena ikut-ikutan aku pun tidak mendapat esensi dr petisi tersebut.
Namun, hari ini aku tersadar oleh sebuah pelajaran berharga yg aku dapat siang ini.

Rabu Siang, 10 Feb '15, Transparancy International Indonesia mengadakan acara temu komunitas pemuda yang ada di Indonesia khususnya daerah Jakarta dan sekitarnya.
Dalam acara tersebut aku mewakili SPEAK STAN yang merupakan komunitas pemuda anti korupsi.
Topik yan diusung pada acara tsb adalah penggunaan media sosial dalam mendukung sebuah gerakan dari sebuah komunitas.
TII selaku penyelenggara mengundang Arthur sebgai narasumber. Dia adalah salah satu mahasiswa di Monash University, Australia.

Awalnya tak banyak hal menarik yang disampaikan oleh Arthur. Hanya hal biasa yang berhubungan dengan media sosial yang sudah kita kenal.
Namun, perbincangan mulai menarik ketika Arthur menyampaikan sebuah gerakan yang menurutnya berhasil dan memberi dampak besar di Australia dan negara barat lainnya.

Pertama dia menceritakan gerakan Anti Perbudakan yg terjadi di tahun 1800an yang telah memberi
dampak besar di bidang kemanusiaan.

Kedua, dia menceritakan gerakan LGBT yang sedang menjadi tren di dunia Barat. Menurutnya,LGBT bagi dunia barat merupakan sebuah keberhasilan yg besar dari sebuah gerakan yg beratahun - tahun mereka perjuangkan. Di Australia sendiri, gerakan LGBT sudah diperjuangkan sejak 10 tahun yang lalu.
Pemikiran LGBT disana berawal dari gerakan mahasiswa di kampus - kampus. kalangan pemuda lah yg memulai gerakan ini di Ausralia. Arthur menyampaikan bahwa 10 tahun lalu LGBT mendapat pertentangan dari banyak pihak. Sekarang gerakan LGBT pun semakin masif. Puncak keberhasilan gerakan ini adalah pelegalan LGBT di negara - negara besar seperti Belanda dan Amerika.
Ditanya perihal jumlah LGBT di Australia, Monash mengatakan bahwa mereka masih menjadi minoritas di Australia.
Tetapi, tujuan dari LGBT disana bukanlah besarnya jumlah. Banyaknya pemikiran pro tentang LGBT lah yang menjadi sebuah keberhasilan bagi mereka.

Mendengar pemaparan Arthur aku pun teringat bagaimana komunitas LGBT Indonesia menyuarakan aspirasi mereka.  Sama seperti di Australia, gerakan - gerakan LGBT pertama muncul dan disuarakan oleh kalangan mahasiswa.
Dimulai dari beberapa komunitas di Yogyakarta dan kota lain, suara - suara LGBT pun semakin menyebar ke seluruh nusantara. Begitulah jadinya ketika pemuda khususnya mahasiswa ketika melakukan sebuah gerakan Untuk saat ini mungkin banyak diantara kita yang menyuarakan penolakan perihal LGBT, tetapi bagaimana dengan 10 tahun mendatang bisa - bisa generasi muda mendatang sudah tak asing lagi dengan dunia LGBT.

Mau tidak mau kita harus mengambil tindakan serius perihal kasus ini, kita tidak bisa tinggal diam dan terus apatis.
Tindakan tak selalu perihal penolakan dan perlawanan terhadap LGBT, tatapi pendekatan persuasif kepada korban di sekitar kita adalah salah satu cara terbaik untuk menyelamatkan Indonesia dari kesesatan liberalisme barat! LGBT bukanlah hak asasi, tatapi penyakit sosial!

Mari lebih peduli orang - orang dan lingkungan sekitar kita! Jangan biarkan adzab menimpa negeri ini!




‪#‎SaveIndonesia‬ ‪#‎SayNOToLGBT‬ ‪#‎TolakGBT‬


EmoticonEmoticon