Seuntai Pesan untuk Penerus Perjuangan



Seuntai Pesan untuk Penerus Perjuangan


Rabu, 19 Oktober 2016. Hari ini adalah hari yang kami tunggu-tunggu. Hari bagi kami merayakan kemenangan. Disaksikan oleh kedua orang tua dan keluarga, kami menjalani prosesi wisuda dengan hikmat. Rasa bahagia menyelimuti diri kami. Namun, rasa sedih juga turut menemani. Rasa sedih harus berpisah dengan kawan seperjuangan yang telah bersama-sama bertahan selama tiga tahun di kampus kesayangan dan menyimpan sejuta kenangan. 

Di sela – sela eufroia, Kali ini kucoba menulis sebuah pesan. Pesan yang ingin kusampaikan kepada penerus perjuangan kampus Ali Wardhana. Bukan pesan yang  berisi untaian kata bijak, melainkan hanyalah sebuah pesan yang berisi pengalaman yang ingin ku bagikan ke semua orang. Pengalaman yang nantinya akan kukenang setelah meninggalkan tempat menghabiskan tiga tahun waktuku. Aku berharap dari beberapa bait pesan ini dapat memberi manfaat ke siapa saja yang membaca. Tak terbesit niat sedikit pun untuk menggurui. Hanyalah keinginan berbagi. Berbagi bekal, bekal pengalaman yang kata pepatah sebagai guru terbaik untuk manusia.

            Masuk STAN sulit kan? Capek kan ikut tesnya? Ya,mayoritas pasti menjawab seperti itu. Tapi ketahuilah, “bertahan hidup” di STAN jauh lebih sulit dibandingkan untuk berhasil melampaui tes masuknya. Aku harap kalian yang sudah menginjakkan kaki di kampus ini benar-benar memiliki tekad bulat untuk belajar dan berjuang sampai akhir. Aku harap sudah ‘tak ada kata-kata “kemauan orang tua” terucap dari lisan kalian. Ini hidup kalian, ini nasib kalian. Semoga STAN adalah tempat hasil pertimbangan matang dan hasil munajat kalian kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Walaupun toh keinginan orang tua mengalahkan keinginan kalian untuk terbang bebas, Ini sudah menjadi jalan hidup kalian. Tuhan telah membuat skenario, melalui orang tua kalian, yang dengan ikhlas harus tetap kalian jalani. Tidak seorang pun yang mengetahui akhir dari drama kehidupan ini. Tuhan hanya ingin hambaNya berusaha dan menjalani hidup dengan penuh semangat dan tawakkal. 

            STAN.... sebuah kawah Candradimuka, tempat di mana standar tinggi diterapkan bagi siapa saja yang ditempa di dalamnya. Datang, belajar, dan pulang tidaklah cukup untuk membuat kalian bertahan. Indeks prestasi 2.75, terbebas dari nilai D, dan hadir 80% di perkuliahan adalah sebagian kecil syarat untuk dapat berhasil mengenakan toga kebanggaan di prosesi wisuda kelak. Dengan sistem perkuliahan yang “cukup” ketat, akan banyak tantangan yang harus kalian hadapi untuk bisa bertahan. 

            “3 Idiots”.  Film yang penuh dengan makna dan berisi sindiran keras terhadap sistem pendidikan yang diterapkan di berbagai negara. “3 Idiots” sedikitnya dapat menggambarkan lingkungan kampus STAN. Persaingan yang sengit dan sistem eliminasi yang ketat memungkinkan STAN mencetak puluhan bahkan ratusan “Chatur” baru. Tidak ada yang salah disini, tidak ada yang salah dengan sistem yang ada. Beginilah beliau, Ali Wardhana, mendidik para calon punggawa negara. Sistem eliminasi yang ketat sebanding dengan besarnya APBN yang telah dihabiskan hanya demi hidupnya kampus STAN. “Rasa Takut”, Perasaan yang dapat membuat rasa ego menjadi penguasa diri kita, hal itu lah yang penyebab bibit-bibit “chatur” yang baru muncul. “Rasa Takut” akan penempatan, penempatan nun jauh. Seakan Indonesia hanyalah Jawa dan Sumatera. “Rasa Takut” akan DO, dan “Rasa Takut” lainnya. Setidaknya harus ada yang menjual cincin keberuntungan di sekitar kampus ini agar  mahasiswa dapat memiliki sedikit rasa tenang.

            Bagi kami, menjadi angkatan pertama yang masuk setelah beberapa tahun moratorium bukanlah hal mudah. Tidak memiliki kakak tingkat sekaligus informan yang dapat memberikan petunjuk bagaimana cara bertahan di kampus ini  membuat kami harus terpaksa mandiri. Di tahun pertama, hampir semua mahasiswa pasti sangat giat belajar. Kami tidak ingin tersingkir terlalu cepat dari kampus ini. Perasaan itu pun turut menghantuiku. Aku menggenjot semangat belajarku. Hampir setiap waktu aku habiskan di kamar untuk membaca tumpukan buku-buku yang memang dari awal sudah aku persiapkan untuk menghadapi ujian. Walaupun aku juga ikut organisasi di kampus, aku lebih banyak mangkir dari rapat dengan alasan banyak tugas. Sosialisasi pun kurang dan akhirnya teman pun juga hanya sekelumit orang, itu pun hanya dalam lingkup kos dan organda. 

            Semua usaha  yang aku lakukan tidak lah sia-sia. Pola belajar yang telah aku susun menghasilkan nilai yang cemerlang. Deretan nilai A menghiasi hasil akhir semester 1 dan 2. Dengan kehidupan seperti itu mengantarkanku menjadi yang terbaik di kelas, bahkan juga terbaik di STAN. Sebuah kebanggaan sendiri bagiku dapat dipanggil ke depan saat apel untuk menerima penghargaan sebagai mahasiswa terbaik di tahun pertama. Menjadi siswa terbaik dari 1400 mahasiswa yang ada adalah anugerah yang luar biasa, apalagi asalku adalah jurusan IPA yang belum mengerti dasar dari ilmu Akuntansi. 

             Sesuai aturan, saat naik tingkat semua siswa akan mendapatkan kelas serta teman baru. Di tahun kedua ini lah aku memulai kehidupan baru. Aku ditunjuk untuk menjadi ketua kelas di kelas baru. Aku kurang tahu alasan teman-teman memilihku. Mungkin karena banyak yang sudah mengenalku, jadi mereka percaya kepada sosok yang bisa dibilang apatis. Kehidupan menjadi ketua kelas mungkin dapat dikatakan sangat melelahkan. Menyiapkan segala hal agar perkuliahan berjalan lancar, mengatur jadwal, dan lainnya. Terkadang semua itu harus menyita waktu belajarku. Satu hal yang tidak aku alami ketika tingkat satu adalah banyaknya permintaan tentir/belajar bareng dari teman-teman sekelas. Mungkin hal ini wajar mengingat prestasi yang aku peroleh kemarin. Hal ini tidak lah biasa , karena memang cara belajarku adalah dengan menyendiri di kamar dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca buku sendirian. Tapi, akhirnya aku meng ’iya’ kan  permintaan teman-temanku. Aku mencoba menerangkan pelajaran di depan kelas dan memberikan pemahaman semampuku kepada teman-teman. 

Tahukah rasanya menjadi tentor di kelas? Ternyata melelahkan, aku harus berdiri dan ngomong terus di depan kelas. Saat itu aku sedikit merasa terbebani akan permintaan teman-temanku. Tapi, sudahlah gapapa hitung-hitung amal. Setelah tentir untuk pertama kali, ada perasaan yang mungkin belum pernah aku rasakan. Perasaan puas mungkin, puas ketika melihat teman-teman  menganggukkan kepala karena memahami apa yang aku terangkan. Begitu juga ketika mereka mengucapkan terima kasih secara ramai-ramai setelah aku menutup kegiatan tentir. Aneh memang, tapi ya inilah yang aku rasakan. Berawal dari itu lah aku menyusun kelompok belajar. Semua anggota kelas yang memiliki kemampuan lebih aku minta untuk menerangkan ke teman satu kelompoknya. 

Tidak terasa satu semester telah kami lalui bersama. Program tentir bersama kelas terus berjalan. Sesering mungkin tentir kelas kami lakukan. Bahkan masih teringat disaat kami belajar untuk ujian Akuntansi Keuangan Menengah, saat itu malam sebelum ujian cuaca hujan deras dan listrik padam, tapi kami tetap melakukan kegiatan tentir menggunakan lampu senter dari flash HP. Memang sedikit ngoyo sih, tapi itulah usahaku dan teman-teman sekelas agar dapat lulus bersama. 

Semua usaha kami pun terbayar. Di akhir semester kami mendapat anugerah dapat mengangkat piala bergilir dengan title kelas dengan IPK terbaik di STAN. Senang pasti kami rasakan bersama. Tapi, kali ini aku sendiri harus rela untuk berada di peringkat sekian ratus. Ya, semester ini aku tidak bisa mempertahankan prestasiku. Mungkin hal tersebut karena kesibukan menjadi ketua kelas yang menyita waktu belajar. Tapi ketahuilah kawan, perasaan maju di depan saat apel semester ini berbeda dengan semester lalu. Maju bersama 35 anggota kelas lainnya memberikan kebahagiaan jauh lebih besar dari pada harus maju atas nama pribadi. Bukan menjadi individu yang terbaik memang menyedihkan, tapi melihat senyum dan kebahagiaan teman-teman kelas saat mengangkat piala dapat menggantikan rasa kesedihan itu. 


Mungkin tidak banyak kisah yang dapat aku ceritakan di sini, banyak rentetan perjuangan aku dan teman-teman dalam bertahan di STAN. Jatuh bangun kami rasakan bersama, meniti harapan demi satu cita untuk lulus bersama. Satu hal yang ingin aku sampaikan dari sedikit cerita tersebut adalah “kawan – kawan Tuhan menciptakan manusia  bukan tanpa tujuan, Tuhan menciptakan orang-orang di sekitar kita agar kita dapat merasakan yang namanya kasih sayang, kepedulian, dan kebersamaan”. Satu kata yang ingin aku katakan. “BERBAGILAH! BANTULAH! Teman-teman kalian”.

 Kita semua di STAN adalah harapan orang tua kita. Tidak ada satu pun orang tua dari kita yang tidak bersedih melihat anaknya gagal lulus dari STAN. Mungkin bisa dikatakan menjadi tentor tidaklah mudah dan kadang melelahkan. Kita harus menyiapkan materi terlebih dahulu dan meluangkan waktu belajar kita demi teman-teman. Dan terkadang sebagai tentor aku juga harus menyiapkan ruang kelas untuk tentir, menyiapkan spidol, fotokopi materi, dll. Melelahkan memang terkadang, tapi ketahuilah hal tersebut tidak sebanding jika harus mendengarkan orang tua dari teman satu kelas menelepon dan menangis di tengah malam setelah mengetahui bahwa anaknya tidak dapat melanjutkan pendidikan di STAN. Semester 4 aku harus kehilangan salah satu dari anggota kelas. Bukan karena dia kurang pandai, atau karena dia malas. Tuhan lah yang membuat skenario hidupnya jadi indah. Kecelakaan yang membuat dia harus terpaksa tertinggal dalam pelajaran. Hampir 2 minggu lebih temanku tidak masuk kuliah. Mondar-mandir ke ruang sekretariat aku lakukan untuk mengurus perizinan. Berdebat dengan dosen dan sekretariat terpaksa aku lakukan agar temanku tidak terganjal masalah absen.  Aku ingat betul saat itu hari Kamis malam saat bulan September, pengumuman kelulusan dari sekretariat keluar. Tidak ada momen yang paling mendebarkan bagi mahasiswa STAN selain pengumuman kelulusan. Semua hal dipertaruhkan di sini. Masa depan, harga diri orang tua, dan rasa malu ditentukan dalam satu file pengumuman. Selaku ketua kelas, sebenarnya aku sudah mengetahui isi pengumuman itu sebelum anggota kelas tahu, tapi aku simpan rapat-rapat rahasia bahwa kami tidak bisa merayakan kelulusan bersama. Puluhan private chat whatsapp masuk, pertanyaan berulang dilontarkan oleh teman-temanku “Gimana pengumuman kelulusan? Lulus semua nggak?” dan berulang kali juga aku harus berbohong kepada mereka. Aku tidak ingin mendahului takdir. Walaupun aku sudah mengetahui bagaimana akhirnya namun aku masih berharap mukjizat Tuhan akan diberikan kepada temanku. Lantunan doa untuknya dan teman-teman lain aku sisipkan di setiap munajatku. Berharap malaikat akan meng’amin’kan doa ku dan Tuhan akan mengabulkannya. 

Malam yang dinantikan pun tiba. Sekitar pukul 21.00 WIB link pengumuman resmi beredar di setiap grup WA. Suasana seketika hening, padahal sebelumnya grup kelas ramai dengan kelakar canda anggota grup. Puluhan PM dari teman-teman masuk menanyakan apakah pengumuman itu benar atau tidak. Seakan mereka masih belum menerima hasil yang diumumkan. Seketika itu, aku pun menelepon orang tua dari temanku untuk meminta maaf karena tidak bisa berbuat banyak untuk anaknya. Isak tangis perlahan terdengar dari telepon genggamku. Aku bisa merasakan kesedihan yang menimpa ibu tersebut. saat itu juga aku meminta maaf karena telah banyak berbohong kepadanya. Hampir setiap hari pasca kecelakaan, ibu itu menanyakan kabar nilai anaknya apakah aman atau tidak. Aku pasti menjawab dengan jawaban “aman”. Padahal aku tahu nilainya hampir sulit untuk ditolong.  Aku terpaksa melakukan hal tersebut semata-mata karena tidak sanggup untuk mengatakan bahwa anaknya terancam tidak bisa lulus dari STAN. Biarlah sekretariat yang menyampaikan kabar tersebut.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika ibu ku dalam posisi tersebut. Aku menyesal tidak dapat membantu banyak untuk keberhasilan temanku. Tapi mungkin itu sudah takdir yang ditetapkan oleh Tuhan. Ini adalah jalan yang terbaik untuknya. Aku bersyukur hingga saat ini aku masih bisa bertahan di sini hingga hari ini aku mengenakan toga didampingi kedua orang tuaku untuk merayakan hari bahagia ini.

Teman, aku harap janganlah ada virus-virus Chatur lagi berada di kampus ini. Kalian adalah generasi yang saling bahu-membahu, menolong sesama, dan peduli dengan siapa pun. Kalian tidak perlu pandai dan cerdas untuk dapat membantu teman kalian. Hanya satu hal yang kalian butuhkan, yaitu NIAT. Walaupun hanya sedikit bantuan yang dapat kalian berikan itu pasti sangat berarti bagi teman-teman kalian yang membutuhkan. Ingatlah! Ilmu akan tertanam apabila kita melakukan tiga hal : 1. Mencatat 2. Menjelaskan ke orang lain 3. Menjalankannya. Dengan menjelaskan maka kita dapat lebih memahami materi yang kita pelajari. Selain itu hilangkan rasa takut akan kalah apabila kalian memberi ilmu kepada teman kalian. Jangan sampai ada pikiran “Kalau dia aku ajari, nilainya jadi lebih bagus dari pada aku dong”. Ingatlah ada sebuah pepatah “Guru yang berhasil adalah guru yang dapat membuat muridnya lebih pintar dari pada dirinya”. Seringkali aku mengetahui bahwa teman yang aku ajari mendapatkan nilai lebih bagus dari pada aku ketika ujian. Namun, hal itu tidak mengurungkan niatku untuk tetap berbagi ilmu dengannya. Hal tersebut membuktikan bahwa aku mampu menjadi guru yang berhasil bagi teman-temanku.

Selanjutnya, janganlah ada kata “psytrap”, “Apatis”, dan kata-kata populer lainnya yang berkonotasi negatif di kampus ini. Janganlah kalian memberikan istilah itu kepada teman kalian. Ketahuilah, tidak semua orang dapat mudah terbuka dengan orang lain, tidak semua orang mampu bersosialisasi dengan baik. Aku juga pernah mengalami fase apatis dan antisosial dalam masa kuliahku hingga akhirnya teman-teman kelasku memberikan arti tentang indahnya berbagi. Marilah kita ubah pola pikir kita, jangan memberikan justifikasi terhadap seseorang tanpa tahu apa yang ada di pikirannya. Ajaklah dengan baik-baik, berilah pengertian sehingga muncul keikhlasan dalam hatinya. 

Sekiranya aku harus mengakhiri pesan panjangku ini. Hanya pengalaman pribadi yang mungkin sangat membekas yang dapat aku ceritakan. Aku tidak ingin pengalaman ini hanya menjadi sebuah kenangan, melainkan pengalaman ini dapat menjadi sebuah pelajaran bagi siapa saja yang dapat mengambil hikmahnya. Aku berharap kalian semua selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Selalu memberikan yang terbaik pada kalian diri kalian, orang tua, dan negara. Ucapan terima kasih ku kepada Tapik, Fakhri, Danan, Kelas AJ dan teman-teman lain yang telah memberikan makna berharga tentang arti berbagi. Salam :)


EmoticonEmoticon